Mengapa Shalat Zuhur dan Ashar Dibaca Lirih,
Sedangkan Maghrib, Isya, dan Subuh Dibaca Keras?
Shalat merupakan ibadah
paling agung dalam Islam, dan setiap gerakan serta bacaan di dalamnya memiliki
tuntunan yang jelas dari Rasulullah ﷺ. Salah satu hal
yang sering ditanyakan adalah: Mengapa
pada shalat Zuhur dan Ashar bacaan imam dan makmum dilakukan lirih (sirr),
sementara pada shalat Subuh, Maghrib, dan Isya dibaca dengan suara keras
(jahr)?
Pertanyaan ini wajar
muncul karena sebagian orang ingin mengetahui dasar hukumnya, sekaligus hikmah
di balik perbedaan tersebut.
Tuntunan Rasulullah ﷺ dalam Jahr dan
Sirr
Dalil yang paling jelas mengenai hal ini terdapat
dalam hadis-hadis shahih:
Hadis Abu Hurairah r.a.
Rasulullah ﷺ bersabda
"Rasulullah ﷺ
membaca dengan suara keras pada shalat Subuh, dan pada dua rakaat pertama
shalat Maghrib dan Isya. Beliau membaca dengan lirih pada shalat Zuhur dan
Ashar."(HR. Bukhari no. 772, Muslim no. 451)
Hadis Jabir bin Samurah r.a.
"Saya pernah shalat bersama Rasulullah ﷺ.
Beliau membaca jahr pada shalat Subuh dan Isya."HR. Muslim no. 459)
Hadis-hadis ini menjadi dasar utama bahwa Rasulullah
ﷺ
sendiri yang mencontohkan jahr (keras) di beberapa shalat tertentu, dan sirr
(lirih) di shalat lainnya.
Pandangan Para Ulama
Para ulama empat mazhab sepakat bahwa jahr di
sebagian shalat dan sirr di sebagian lainnya adalah sunnah yang tetap berlaku
hingga hari ini.
Imam An-Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 4/159):
"Para
ulama sepakat bahwa Rasulullah ﷺ jahr pada Subuh,
Maghrib, dan Isya; dan beliau sirr pada Zuhur dan Ashar. Ini sunnah yang tidak
ada perbedaan pendapat di antara fuqaha."
Imam Ibn Qudamah (Al-Mughni, 1/363):
"Jahr
di malam hari dan sirr di siang hari adalah sunnah tsabitah (tetap) dari
Rasulullah ﷺ, baik ketika safar maupun mukim."
Al-Hafizh Ibn Hajar (Fathul Bari, 2/163):
"Hikmahnya,
jahr di malam hari agar orang dapat mendengarkan bacaan imam, sementara sirr di
siang hari agar tidak mengganggu aktivitas manusia yang sedang bekerja."
Hikmah di Balik Perbedaan Jahr dan Sirr
Islam tidak hanya memerintahkan, tetapi juga
mengandung hikmah di balik setiap ketetapan. Beberapa hikmah perbedaan jahr dan
sirr antara lain:
1. Shalat Zuhur dan Ashar (siang hari, bacaan lirih)
Siang hari manusia sibuk bekerja dan beraktivitas,
sehingga bacaan keras bisa mengganggu.
Membaca sirr lebih menjaga kekhusyukan di tengah
hiruk-pikuk siang.
2. Shalat Subuh, Maghrib, dan Isya (malam hari,
bacaan keras)
Malam hari lebih tenang, sehingga jahr memberi
manfaat bagi jamaah untuk mendengar bacaan imam.
Syiar Islam lebih terasa, karena jamaah bersama-sama
mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Pada Subuh, jahr di awal hari memberi penguatan iman
sebelum seseorang beraktivitas.
Perbedaan antara jahr dan sirr dalam shalat adalah
sunnah Rasulullah ﷺ yang sudah jelas
dalilnya dalam hadis-hadis shahih. Para ulama sepakat bahwa:
Dengan demikian, kita tidak boleh menganggap enteng
perbedaan ini, sebab semua ada hikmah dan keutamaannya. Shalat adalah ibadah
yang paling sempurna, dan setiap bagiannya adalah tuntunan dari Rasulullah ﷺ
yang wajib kita ikuti.
Rasulullah ﷺ
membaca jahr dan sirr dalam shalat
"Rasulullah ﷺ
membaca dengan suara keras (jahr) pada shalat Subuh, dan pada dua rakaat
pertama dari shalat Maghrib dan Isya. Beliau membaca dengan lirih (sirr) pada
shalat Zuhur dan Ashar." (HR. Bukhari no. 772, Muslim no. 451)
Hadis ini menjadi
dasar hukum perbedaan jahr dan sirr dalam shalat.
Hadis dari Jabir bin Samurah r.a.
“Saya shalat
bersama Rasulullah ﷺ.
Beliau membaca dengan jahr pada shalat Subuh dan Isya.” (HR. Muslim no. 459)
Ini
menegaskan praktik jahr di beberapa shalat tertentu.
Imam An-Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 4/159):
"Para
ulama sepakat bahwa Rasulullah ﷺ
melakukan jahr pada shalat Subuh, Maghrib, dan Isya; serta melakukan sirr pada
shalat Zuhur dan Ashar. Ini adalah sunnah yang tetap berlaku, dan tidak ada
perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqh."
Imam Ibn Qudamah (Al-Mughni, 1/363):
"Jahr pada shalat malam dan sirr pada shalat
siang adalah sunnah yang tetap (tsabit) dari Rasulullah ﷺ, baik dalam safar maupun ketika
mukim."
Al-Hafizh Ibn Hajar (Fathul Bari, 2/163):
"Hikmah jahr pada shalat malam adalah karena
waktu itu relatif tenang, orang-orang berkumpul, dan bacaan yang keras bisa
memberi manfaat untuk didengar. Sedangkan pada siang hari (Zuhur dan Ashar),
karena orang-orang sibuk, maka disyariatkan membaca sirr."
Hikmah Perbedaan Jahr dan Sirr
1. Waktu Siang Hari (Zuhur & Ashar):
Bacaan lirih agar tidak mengganggu aktivitas manusia
yang sedang bekerja atau sibuk.
Menjaga kekhusyukan di tengah hiruk-pikuk siang
hari.
2. Waktu Malam dan Subuh (Maghrib, Isya, Subuh):
Suasana tenang, lebih sedikit gangguan, sehingga
jahr bisa menambah kekhusyukan.
Jamaah bisa
mendengarkan dan mengambil manfaat dari bacaan imam.
Dalam Subuh, jahr juga untuk menguatkan hati jamaah
di awal hari.
Zuhur dan Ashar dibaca sirr karena sunnah Rasulullah ﷺ, dan hikmahnya agar sesuai kondisi
siang yang ramai dan sibuk.
Maghrib, Isya, dan Subuh dibaca jahr karena waktu malam lebih tenang, sehingga
bacaan keras bisa menambah manfaat, kekhusyukan, dan syiar.
Semua
ini berasal dari tuntunan Rasulullah ﷺ sebagaimana diriwayatkan dalam hadis-hadis
shahih, dan disepakati oleh jumhur ulama (Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah,
Hanabilah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar