Kamis, 02 Oktober 2025

 

Mengapa Shalat Zuhur dan Ashar Dibaca Lirih, Sedangkan Maghrib, Isya, dan Subuh Dibaca Keras?

Shalat merupakan ibadah paling agung dalam Islam, dan setiap gerakan serta bacaan di dalamnya memiliki tuntunan yang jelas dari Rasulullah . Salah satu hal yang sering ditanyakan adalah:  Mengapa pada shalat Zuhur dan Ashar bacaan imam dan makmum dilakukan lirih (sirr), sementara pada shalat Subuh, Maghrib, dan Isya dibaca dengan suara keras (jahr)?

Pertanyaan ini wajar muncul karena sebagian orang ingin mengetahui dasar hukumnya, sekaligus hikmah di balik perbedaan tersebut.

Tuntunan Rasulullah dalam Jahr dan Sirr

Dalil yang paling jelas mengenai hal ini terdapat dalam hadis-hadis shahih:

Hadis Abu Hurairah r.a.

Rasulullah bersabda

 "Rasulullah membaca dengan suara keras pada shalat Subuh, dan pada dua rakaat pertama shalat Maghrib dan Isya. Beliau membaca dengan lirih pada shalat Zuhur dan Ashar."(HR. Bukhari no. 772, Muslim no. 451)

Hadis Jabir bin Samurah r.a.

"Saya pernah shalat bersama Rasulullah . Beliau membaca jahr pada shalat Subuh dan Isya."HR. Muslim no. 459)

Hadis-hadis ini menjadi dasar utama bahwa Rasulullah sendiri yang mencontohkan jahr (keras) di beberapa shalat tertentu, dan sirr (lirih) di shalat lainnya.

Pandangan Para Ulama

Para ulama empat mazhab sepakat bahwa jahr di sebagian shalat dan sirr di sebagian lainnya adalah sunnah yang tetap berlaku hingga hari ini.

Imam An-Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 4/159):

  "Para ulama sepakat bahwa Rasulullah jahr pada Subuh, Maghrib, dan Isya; dan beliau sirr pada Zuhur dan Ashar. Ini sunnah yang tidak ada perbedaan pendapat di antara fuqaha."

Imam Ibn Qudamah (Al-Mughni, 1/363):

  "Jahr di malam hari dan sirr di siang hari adalah sunnah tsabitah (tetap) dari Rasulullah , baik ketika safar maupun mukim."

Al-Hafizh Ibn Hajar (Fathul Bari, 2/163):

 "Hikmahnya, jahr di malam hari agar orang dapat mendengarkan bacaan imam, sementara sirr di siang hari agar tidak mengganggu aktivitas manusia yang sedang bekerja."

Hikmah di Balik Perbedaan Jahr dan Sirr

Islam tidak hanya memerintahkan, tetapi juga mengandung hikmah di balik setiap ketetapan. Beberapa hikmah perbedaan jahr dan sirr antara lain:

1. Shalat Zuhur dan Ashar (siang hari, bacaan lirih)

Siang hari manusia sibuk bekerja dan beraktivitas, sehingga bacaan keras bisa mengganggu.

Membaca sirr lebih menjaga kekhusyukan di tengah hiruk-pikuk siang.

2. Shalat Subuh, Maghrib, dan Isya (malam hari, bacaan keras)

Malam hari lebih tenang, sehingga jahr memberi manfaat bagi jamaah untuk mendengar bacaan imam.

Syiar Islam lebih terasa, karena jamaah bersama-sama mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Pada Subuh, jahr di awal hari memberi penguatan iman sebelum seseorang beraktivitas.

Perbedaan antara jahr dan sirr dalam shalat adalah sunnah Rasulullah yang sudah jelas dalilnya dalam hadis-hadis shahih. Para ulama sepakat bahwa:

Dengan demikian, kita tidak boleh menganggap enteng perbedaan ini, sebab semua ada hikmah dan keutamaannya. Shalat adalah ibadah yang paling sempurna, dan setiap bagiannya adalah tuntunan dari Rasulullah yang wajib kita ikuti.

Rasulullah membaca jahr dan sirr dalam shalat

"Rasulullah membaca dengan suara keras (jahr) pada shalat Subuh, dan pada dua rakaat pertama dari shalat Maghrib dan Isya. Beliau membaca dengan lirih (sirr) pada shalat Zuhur dan Ashar." (HR. Bukhari no. 772, Muslim no. 451)

Hadis ini menjadi  dasar hukum perbedaan jahr dan sirr dalam shalat.

Hadis dari Jabir bin Samurah r.a.

 “Saya shalat bersama Rasulullah . Beliau membaca dengan jahr pada shalat Subuh dan Isya.” (HR. Muslim no. 459)

 Ini menegaskan praktik jahr di beberapa shalat tertentu.

Imam An-Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 4/159):

 "Para ulama sepakat bahwa Rasulullah melakukan jahr pada shalat Subuh, Maghrib, dan Isya; serta melakukan sirr pada shalat Zuhur dan Ashar. Ini adalah sunnah yang tetap berlaku, dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqh."

Imam Ibn Qudamah (Al-Mughni, 1/363):

"Jahr pada shalat malam dan sirr pada shalat siang adalah sunnah yang tetap (tsabit) dari Rasulullah , baik dalam safar maupun ketika mukim."

Al-Hafizh Ibn Hajar (Fathul Bari, 2/163):

"Hikmah jahr pada shalat malam adalah karena waktu itu relatif tenang, orang-orang berkumpul, dan bacaan yang keras bisa memberi manfaat untuk didengar. Sedangkan pada siang hari (Zuhur dan Ashar), karena orang-orang sibuk, maka disyariatkan membaca sirr."

Hikmah Perbedaan Jahr dan Sirr

1. Waktu Siang Hari (Zuhur & Ashar):

Bacaan lirih agar tidak mengganggu aktivitas manusia yang sedang bekerja atau sibuk.

Menjaga kekhusyukan di tengah hiruk-pikuk siang hari.

2. Waktu Malam dan Subuh (Maghrib, Isya, Subuh):

Suasana tenang, lebih sedikit gangguan, sehingga jahr bisa menambah kekhusyukan.

 Jamaah bisa mendengarkan dan mengambil manfaat dari bacaan imam.

Dalam Subuh, jahr juga untuk menguatkan hati jamaah di awal hari.

Zuhur dan Ashar dibaca sirr  karena sunnah Rasulullah , dan hikmahnya agar sesuai kondisi siang yang ramai dan sibuk.

Maghrib, Isya, dan Subuh dibaca jahr  karena waktu malam lebih tenang, sehingga bacaan keras bisa menambah manfaat, kekhusyukan, dan syiar.

 Semua ini  berasal dari tuntunan Rasulullah  sebagaimana diriwayatkan dalam hadis-hadis shahih, dan disepakati oleh jumhur ulama (Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah).


  Mengapa Shalat Zuhur dan Ashar Dibaca Lirih, Sedangkan Maghrib, Isya, dan Subuh Dibaca Keras? Shalat merupakan ibadah paling agung dalam...